Sunday, June 1, 2008

Negara ku yang Cemerlang

AsSalam
Setahu saya , jika negara nak cemerlang ...maka perlu ikut Syariat Islam dalam pentadbiran...
tinggalkan arak...judi, tenung nasib ..tinggal sembah berhala...la'allakum tuflihun..Mudah-mudahan cemerlang
tuflihun mean Insan yang cemerlang


AMAR MA'RUF DAN NAHI MUNGKARAbul -Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Abdul-Aziz berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyiksa orang-orang umum kerana dosa-dosanya orang-orang yang tertentu tetapi apabila perbuatan dosa itu merahajalela dan terang-terangan kemudian tidak ada yang menegur, maka bererti semuanya sudah layak menerima hukuman." Dan diriwayatkan bahawa Allah s.w.t. telah mewahyukan kepada Yusya bin Nuh a.s.: "Aku akan membinasakan kaummu empat puluh ribu orang yang baik-baik dan enam puluh ribu orang yang derhaka." Nabi Yusya bertanya: "Ya Tuhan, itu orang derhaka sudah layak, maka mengapakah orang yang baik-baik itu?" Jawab Allah s.w.t.: "Kerana mereka tidak murka terhadap apa yang Aku murka, bahkan mereka makan minum bersama mereka yang derhaka itu." Abu Hurairah r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Anjurkan lah kebaikan itu meskipun kamu belum dapat mengerjakannya dan cegahlah segala yang mungkar meskipun kamu belum menghentikannya. "Abul -Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Umar bin Abdul-Aziz berkata: "Sesungguhnya Allah s.w.t. tidak menyiksa orang-orang umum kerana dosa-dosanya orang-orang yang tertentu tetapi apabila perbuatan dosa itu merahajalela dan terang-terangan kemudian tidak ada yang menegur, maka bererti semuanya sudah layak menerima hukuman." Dan diriwayatkan bahawa Allah s.w.t. telah mewahyukan kepada Yusya bin Nuh a.s.: "Aku akan membinasakan kaummu empat puluh ribu orang yang baik-baik dan enam puluh ribu orang yang derhaka." Nabi Yusya bertanya: "Ya Tuhan, itu orang derhaka sudah layak, maka mengapakah orang yang baik-baik itu?" Jawab Allah s.w.t.: "Kerana mereka tidak murka terhadap apa yang Aku murka, bahkan mereka makan minum bersama mereka yang derhaka itu." Abu Hurairah r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Anjurkan lah kebaikan itu meskipun kamu belum dapat mengerjakannya dan cegahlah segala yang mungkar meskipun kamu belum menghentikannya. "Ertinya: Orang yang menganjurkan kebaikan dan mencegah mungkar itulah pembuka kebaikan dan penutupan dari kejahatn dan ia termasuk orang mukmin sebagaimana firman Allah s.w.t.: "Wal mu'minuna wal mu'minaatu ba'dhuhum auliyaa'uba' dah ya'muruuna bil ma'rufi wayanhauna anil mungkar." Yang bermaksud: "Orang-orang mukmin lelaki dan perempuan setengah menjadi wali pembantu pada setengahnya, menganjurkan kebaikan dan mencegah dari mungkar."Adapun yang menganjurkan mungkar dari mencegah dari kebaikan maka itu tanda munafiq sebagaimana firman Allah s.w.t.: "Almunafiquuna walmunafiqatu ba'dhuhum min ba'dah ya'muruuna bil mungkari wayanhauna anil ma'ruf" Yang bermaksud: "Orang munafiq lelaki dan perempuan masing-masing menjadi wali pembantu setengahnya menganjurkan kejahatan dan mencegah kebaikan."Ali bin Abi Thalib r.a.berkata: "Seutama-utama amal ialah amar ma'ruf dan nahi mungkar (menganjurkan kebaikan dan mencegah kejahatan), dan membenci orang yag fasiq (melanggar hukum). Maka siapa yang menganjurkan kebaikan bererti memperkuat orang mukmin dan siapa mencegah mungkar bererti menghina orang munafiq.Said meriwayatkan dari Qatadah berkata: "Ada seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. ketika diMekah lalu bertanya: "Benarkah engkau mengaku sebagai utusan Allah s.w.t.?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w. : "Ya" Lalu bertanya: "Amal apakah yang lebih disukai Allah s.w.t?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Menghubungi keluarga." Tanyanya lagi: "Kemudian apakah?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Menganjurkan kebaikan dan mencegah mungkar." Lalu ditanya lagi: "Amal apakah yang sangat dimurkai Allah s.w.t.?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w. " Syirik, mempersekutukan Allah s.w.t." "Kemudian apakah?" tanyanya lagi. Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: "Memutuskan hubungan kekeluargaan. " "Kemudian apakah?" tanyanya lagi. Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Meninggalkan amar ma'ruf dan nahi mungkar (tidak suka menganjurkan kebaikan dan mencegah mungkar)."Sufyan Atstsauri berkata:"Jika kau melihat orang yang pandai quran itu disayangi oleh tetangganya dan dipuji oleh kawan-kawannya, maka ketahuilah bahawa ini suka mengambil hati (yakni tidak tegas amar ma'ruf dan nahi mungkar)."Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud) Tidak terjadi pada suatu kaum seorang yang berbuat durhaka, sedang mereka dapat menghentikannya tetapi mereka tidak mencegahnya melainkan Allah s.w.t. akan meratakan mereka siksaanNya sebelum mati mereka."Abul-Laits berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. mensyaratkan berkuasa untuk mencegah bererti bahawa orang-orang yang baik-baik berkuasa (berwibawa), kerana itu maka kewajipan mereka harus mencegah merahajalelanya orang-orang ahli maksiat."Allah s.w.t. memuji ummat ini didalam ayat yang berbunyi: "Kuntum khoiro ummatin ukhrijat linnaasi ta'muruna bil ma'rufi watanhauna anil mungkari watu'minuna billah." Yang bermaksud: "Kamu sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia kerana menganjurkan kebaikan dan mencegah mungkar dan beriman kepada Allah."Didalam ayat lain pula berbunyi: "Wal takun minkum ummatun yad'uuna jlal khori waya'muruuna bil ma'ruufi wayanhauna anil munkar wa'ulaika humul muflihuun." Yang bermaksud: "Harus ada dari kamu golongan (orang-orang) yang mengajak kepada kebaikan dan menganjurkan segala ma'ruf (yang baik) dan mencegah mungkar dan merekalah orang-orang yang beruntung (bahagia)."Juga Allah s.w.t. mencela orang-orang yang tidak suka mencegah munkar dalam ayat yang berbunyi: "Kaa nu lah yatana hauna an mungkharin nothing'aluhu labi'samaa kaanuu yaf'alun." Yang bermaksud: "Mereka tidak saling mencegah dari perbuatan mungkar yang mereka perbuat, sesungguhnya busuk perbuatan mereka itu."Didalam ayat yang lain pula Allah s.w.t. berfirman: "Lau lah yanhahumur robbaniyuna wal ahbaaru an qaulihimul itsma wa aklihimus suhta, labi'sa maa kaanu yash ma'uun." Yang bermaksud: "Mengapa para ulama dan orang-orang yang mengerti agama itu tidak melarang mereka dari kata-kata yang keji dan makan yang haram, sungguh busuk apa yang mereka perbuat."Seharusnya orang yang akan menganjurkan amar maruf itu melaksanakan sendiri peribadi supaya lebih mantap manishat peringatannya. Abud Dardaa r.a. berkata: "Siapa yang menasihati saudaranya dimuka umum (terang-terangan) maka bererti telah memalukannya dan siapa memberi nasihat itu sendirian maka benar-benar akan memperbaiki dan bila tidak berguna nasihat dengan rahsia maka boleh minta tolong kepada orang yang baik-baik untuk mencegahnya dari perbuatan maksiat, maka jika tidak dikerjakan yang demikian pasti perbuatan maksiat itu akan menjalar dan bermahajalela sehingga membinasakan mereka semua."Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Annu'man bin Basyir r.a. berkata: "Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud) Perumpamaan orang yang tegak dalam hukum Allah s.w.t. dan orang yang tergelincir bagaikan rombongan yang naik kapal maka masing-masing bertempat diatas dan dibawah, maka ketika mereka sedemikian, tiba-tiba orang yang berada dibahagian bawah mengambil kapak lalu ditanya oleh kawan-kawannya: Apakah maksudmu? Jawabnya: Saya akan melubangi tempatku supaya dekat dengan air sehingga mudah bagiku mengambil atau membuang air. Maka sebahagian yang lain berkata: Biarkan ia berbuat sesukanya dibahagiannya, sebahagian yang lain pula berkata: Jangan kamu biarkan dia melubangi bahagian bawah dari kapal ini, nescaya ninasa dan membinasakan kita semua, maka bila mereka dapat menahannya bererti selamat dan selamat semuanya tetapi bila mereka tidak mencegahnya maka binasa dan binasa semuanya."Abu-Dardaa r.a. berkata: "Kamu harus melakukan amar maruf nahi mungkar, kalau tidak Allah s.w.t. akan mengguasakan diatas kamu seorang yang zalim, yang tidak menghargai orang tua dan tidak kasih kepada anak-anak, kemudian pada saat itu orang-orang yang baik diantara kamu berdoa, maka tidak diterima doa mereka, minta pertolongan juga tidak ditolong minta ampun tidak diampun."Huszaifah ra.a berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud) Demi Allah yang jiwaku ada ditangaNya, kamu harus melakukan amar maruf dan nahi mungkar atau jika tidak melakukan itu bererti sudah hampir Allah akan menurunkan siksa kepadamu, kemudian kamu berdoa maka tidak diterima olehNya."Ali r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud) Jika ummatku telah takut berkata kepada orang yang zalim itu: "Engkau zalim!", maka ucapkan selamat tinggal pada ummat itu (mereka akan binasa dan hina)."Abul Said Alkhudi r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud) Jika kamu melihat perbuatan mungkar maka kamu harus roboh (tentang) dengan kekuatan kekuasaan (tangan), jika tidak dapat maka dengan nasihat lidahnya, jika tidak dapat maka dibenci dengan hatinya dan ini menunjukkan selemah-lemah iman. Menggunakan kekuatan kekerasan itu bagi orang yang berkuasa dan dengan lisan bagi para ulama (cerdik pandai) dan denganb hati bagi umum. Masing-masing orang menggunakan menurut kedudukannya, kekuatannya dan kekuasaannya. "Abul-Laits berkata: "Seharusnya bagi orang yang maruf (menganjurkan kebaikan) dan nahi mungkar (mencegah kejahatan) itu harus niat ikhlas kerana Allah s.w.t. dan menegakkan agama Allah s.w.t. bukan semata-mata membela kepentingan diri sendiri, sebab bila ia benar-benar ikhlas kerana Allah s.w.t. dan agama Allah s.w.t., maka pasti mendapat bantuan pertolongan Allah s.w.t. sebagaimana ayat yang berbunyi: "In tanshurullaha yanshurkum." (Yang bermaksud: "Jika kamu benar-benar menegakkan khalimatullah, maka Allah akan menolong kamu.) Juga pasti ia terpimpin dengan taufiq dari Allah s.w.t. Ada riwayat dari Ikrimah berkata: "Ada seorang berjalan tiba-tiba ia melihat sebuah pohon disembah orang maka ia marah dan langsung ia pulang mengambil kapaknya lalu naik himar menuju ketempat pohon itu untuk memotongnya, maka dihadang iblis laknatullah ditengah jalan tetapi merupai orang, maka ditanya: "Engkau akan kemana?" Jawab orang itu: "Saya melihat pohon yang disembah orang, maka saya berjanji kepada Allah s.w.t. akan memotong pokok itu, kerana itu saya pulang mengambil kapak dan naik himarku ini untuk pergi kepohon itu." Iblis laknatullah berkata: "Apa urusanmu dengan sembahan orang, biar orang lain, mereka telah jauh dari rahmat Allah." Disebabkan rintangan iblis laknatullah itu maka ahkirnya mereka berkelahi tetapi ternyata Iblis laknatullah itu kalah, sampai berulang tiga kali tetap iblis laknatullah kalah lalu Iblis laknatullah itu berkata: "Lebih baik kau kembali dan saya berjanji kepadamu tiap hari aku akan berikan kepadamu empat dirham diujung tempat tidurmu." Orang itu bertanya: "Apakah betul kau akan begitu?" Jawab iblis laknatullah: "Ya. Aku jamin tiap hari." Maka kembalilah orang itu kerumahnya, maka benarlah pada esok hari ia mendapat wang itu selama dua hari dan pada hari ketiga ternyata tidak ada apa-apa, kemudian esok harinya lagi tiada juga. Maka kerana ia tidak mendapat wang itu, maka ia segera mengambil kapak dan naik himar untuk pergi kepohon itu, maka ditengah jalan dihadang oleh iblis laknatullah yang merupai manusia dan ditanya: "Kemana kau mahu pergi?" Jawabnya: "Kepohon yang disembah orang itu untuk memotongnya. " Iblis laknatullah berkata: "Engkau tidak dapat berbuat demikian, adapun yang pertama kali itu kerana kau keluar dengan marahmu itu benar-benar kerana Allah sehingga umpama semua penduduk langit dan bumi akan menghalangi kamu tidak akan dapat, adapun sekarang maka kau keluar kerana tidak mendapat wang maka bila kau berani maju setapak aku akan patahkan lehermu.", maka ia kembali kerumahnya dan membiarkan pohon itu.Abul-Laits berkata: "Seorang yang akan menjalankan amar maruf dan nahi mungkar harus melengkapi lima syarat iaitu: Berilmu, sebab orang yang bodoh tidak mengerti maruf dan mungkar. Ikhlas kerana Allah s.w.t. dan kerana agama Allah s.w.t. Kasih sayang kepada yang dinasihati, dengan lunak dan ramah tamah dan jangan menggunakan kekerasan sebab Allah s.w.t. telah berpesan keppada Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. supaya berlaku lunak kepada Fir'aun. Sabar dan tenang, sebab Allah s.w.t. berfirman yang berbunyi: "Wa'mur bil ma'rufi wanha anilmunkar wash bir ala maa ashabaka." Yang bermaksud: "Anjurkan kebaikan dan cegahlah yang mungkar dan sabarlah terhadap segala penderitaanmu. " Harus mengerjakan apa-apa yang dianjurkan supaya tidak dicemuh orang atas perbuatannya sendiri sehingga tidak termasuk pada ayat yang berbunyi: "Ata'murunannasa bil-birri watansauna anfusakum." Yang bermaksud: "Apakah kamu menganjurkan kebaikan kepada orang lain tetapi melupakan dirimu sendiri."Anas r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Ketika malam isra' saya melihat orang-orang yang digunting bibirnya dengan gunting dan ketika aku bertanya pada Jibril: Siapakah mereka itu, ya Jibril? Jawabnya: Mereka pemimpin-pemimpin dari ummatmu yang menganjurkan orang lain berbuat baik tetapi lupa pada diri sendiri, padahal mereka membaca kitab Allah s.w.t. tetapi mereka tidak memperhatikan dan mengamalkannya. "Qatadah berkata: "Didalam kitab Taurat ada tertulis: Hai anak Adam, engkau mengingatkan lain orang dengan ajaranKu sedang engkau melupakan Aku, dan mengajak orang kembali kepadaKu sedang engkau lari daripadaKu, maka sia-sia perbuatanmu itu."Abu Mu'awiyah Alfazari meriwayatkan dengan sanadnya bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Kamu kini dalam hal yang sangat jelas dari jalan Tuhanmu sehingga nampak jelas bagimu dua macam mabuk iaitu mabuk penghidupan dan mabuk kebodohan dan kamu kini masih menjalankan amar maruf dan nahi mungkar, dan kamu berjuang bukan dalam jalan Allah s.w.t. dan orang-orang yang dapat menegakkan ajaran kitab dengan sembunyi atau terang-terangan sama pahalanya dengan orang-orang dahulu dari sahabat Muhajirin dan Anshar."Alhasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Siapa yang lari dari daerah kelain daerah untuk mempertahankan agamanya, walau baru melangkah satu jengkal, maka telah pasti (berhak) masuk syurga dan menjadi kawan Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad s.a.w." (Sebab) Nabi Ibrahim a.s. telah berhijrah dari Hiraan ke Syam iaitu yang tersebut didalam ayat yang berbunyi: "Wa qaala inni muhajirun ila robbi innahu huwal aziizul hakiem. Yang bermaksud: "Dan berkata Ibrahim, sungguh aku akan berhijrah kepada Tuhanku, sungguh Dialah yang mulia, jaya dan bijaksana." Dan Ayat yang berbunyi: "Inna dzahibun ila robbi sayahdini." Yang bermaksud: "Sungguh aku akan pergi kepada Tuhanku, Dialah yang memberi hadayat dan memimpin aku." Dan Nabi Muhammad s.a.w. telah berhijrah dari Mekkah ke Madinah, maka siapa didaerah yang penuh maksiat lalu ia keluar daripadanya kerana mengharapkan keridhaan Allah s.w.t., maka telah mengikuti jejak Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad s.a.w., maka insyaallah akan menjadi kawan keduanya disyurga. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: "Waman yakhruj min baitihi muhajiran illalahi warasulihi tsumma yudrikhul mautu faqad waqa'a ajrunu alallah wakaanallahu ghafura rahima."Yang bermaksud: "Dan siapa yang keluar dari rumahnya berhijrah kepada Allah dan Rasulullah kerana taat kepada Allah dan Rasulullah kemuadian mati, maka pahalanya telah dijamin oleh Allah, dan Allah itu maha pengampun lagi penyayang."Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Tiap-tiap muslim yang keluar dari rumahnya berhijrah menuju taat dan keridhoaan Allah s.w.t. dan Rasul-Nya, lalu meletakkan kakinya diatas kenderaannya walau baru berjalan selangkah kemudian mati, maka Allah s.w.t. akan memberi pahala orang-orang yang berhijrah. Dan tiap-tiap orang muslim keluar dari rumahnya untuk berperang jihad fisabilillah, mendadak terinjak oleh kenderaannya atau tergigit oleh binatang berbisa sebelum perang atau mati bagaimanapun keadaannya, maka ia mati syahid. Dan tiap orang muslim yang keluar dari rumahnya menuju ke Baitillahil Haram (berbuat haji) kemudian mati sebelum sampai, maka Allah s.w.t. akan mewajibkan baginya syurga." Abul-Laits berkata: "Dan siapa tidak hijrah dari daerahnya sedang ia sanggup menunaikan ibadat kepada Allah s.w.t., maka tidak apa-apa asalkan ia membenci pada maksiat yang terjadi disekitarnya, maka ia dimaafkan." Abdullah bin Mas'ud r.a. berkata: "Cukup bagi seorang yang melihat mungkar dan ia tidak dapat merubahnya, asalkan Allah s.w.t. mengetahui dalam hatinya bahawa ia tidak suka pada mungkar itu."Sebahagian sahabat r.a. berkata: "Jika seorang melihat mungkar dan tidak dapat mencegahnya, maka hendaklah dia membaca: Allahuma inna hadzaa munkaran fala tu'aa khidzni bihi. Yang bermaksud: Ya Allah, maka jangan menuntut aku dengan adanya mengkar. (Sebanyak 3 kali) Maka jika membaca yang demikian ia mendapat pahala seperti orang amar maruf dan nahi mungkar.Umar bin Jabir Allakhmi dari Abu Umayyah berkata: "Saya tanya pada Abu Tsa'labah Alkhusyani r.a. tentang ayat yang berbunyi: "Ya ayyuhai ladzina aamanu anfusakum lah yadhurrukum man dholla idzah tadaitum." Yang bermaksud: "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tidak apa-apa bagimu kesesatan orang yang sesat bila kamu telah mendapat hidayat dan berlaku baik." Jawab Abu Tsa'labah: "Engkau telah tanya pada orang-orang yang benar mengetahui, saya telah tanya kepada Rasulullah s.a.w. maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Hai Abu Tsa'labah, laksanakan amar maruf dan nahi mungkar, maka apabila engkau telah melihat dunia sudah diutamakan dari lain-lainnya, dan orang yang kikir telah diikuti orang, dan tiap orang sombong dan berbangga dengan pendapatnya sendiri, maka jagalah dirimu, sebab dibelakangmu adalah saat kesabaran dan ketahanan dan bagi orang yang kuat mempertahankan sebagaimana yang kamu lakukan sekarang ini akan mendapat pahala sama dengan lima puluh orang." Sahabat bertanya: "Sama dengan lima puluh orang dari kami atau dari mereka?" Jawab Rasullullah s.a.w.: "Sama dengan lima puluh orang dari kamu."Qais bin Abi Hazim berkata: "Saya telah mendengar Abu Bakar Assiddiq r.a. berkata: "Kamu membaca ayat ini (yang berbunyi): "Ya ayyuhallazlina amanu alaikum anfusakum ia yadhurrukum man dholla idzah tadaitum, ilallahi marji'ukum kami'an." Yang bermaksud: "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tidak bahaya bagimu kesesatan orang-orang yang sesat jika kamu sendiri mengikuti petunjuk, kepada Allah kamu semua akan kembali." Dan saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda (yang bermaksud): "Tiada satu kaum yang memaharajalela ditengah-tengah mereka perbuatan maksiat kemudian tiada yang berusaha merubahnya dan mencegahnya melainkan telah hampir tiba pada mereka siksa umum merata dari Allah s.w.t." dan kamu letakkan tidak pada tempatnya.Ibn Mas'ud r.a. ketika ditanya mengenai ayat ini, ia menjawab: "Bukan masanya tetapi itu berlaku bila hawa nafsu telah mengusai dan merata dan orang-orang suka berdebat, maka tiap orang harus menjaga keselamatan dirinya, maka pada saat itulah tiba masanya.(Tafsiranny a)Dalil2pertama : Dalil secara umum tentang kewajiban amarma?ruf nahi mungkar, seperti dalam firman Allah Taala artinya : Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (Al Quran Surat Ali Imran 104). Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan, Allah Taala menghendaki agar dari segolongan umat ada yang peduli masalah amar makruf dan nahi mungkar. Meskipun demikian, setiap umat tetap memiliki tanggung jawab masalah tersebut, sesuai kadar kemampuan masing-masing, berdasarkan hadist dari Abu Hurairah bahwa Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda: Barangsiapa yang melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya (Tafsir Ibnu Katsir 1/290).Allah Taala juga mengabarkan, bahwa baik tidaknya umat tergantung pada penegakan amar maruf nahi mungkar sebagaimana firman Allah Ta?ala berikut : artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Al Quran Surat Ali Imran 110). Menurut Mujahid, Umat Islam akan tetap bisa menyabet predikat umat terbaik asal memenuhi syarat di atas.Sedangkan menurut Imam Asy-Syaukani, Ayat di atas berstatus hal yang berarti predikat umat terbaik sangat terkait dengan kemauan dalam beramar makruf dan nahi mungkar. (Tafsir Fath Al Qadir, Asy Syaukani 1/371).Abu Said Al-Khudri Radiyallahu anhu meriwayatkan, saya mendengar Rasalullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda: Barangsiapa yang melihat kemungkaran hendaklah mengubah dengan tangannya, bila tidak mampu maka dengan lisannya, dan bila tidak mampu, maka dengan hatinya. Demikian itu selemah-lemah iman. (HRMuslim). Nabi Shalallahu alaihi wassalam menyuruh beramar maruf dan nahi mungkar dengan tiga tingkatan sesuai kadar kemampuan masing-masing. Dari Abdullah bin Masud Radiyallahu ?anhu, nabi bersabda : Tiada seorang nabi yang diutus Allah kepada umatnya sebelumku, melainkan ada diantara umatnya yang menjadi hawari (pembela baginya) dansahabat yang mengambil sunnahnya, mengikuti perintahnya. Kemudian datang setelah mereka generasi yang mengucapkan sesuatu yang tidak mereka kerjakan dan mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan. Maka siapa yang memerangi mereka dengan tangannya, ia seorang mukmin, siapa yang memerangi mereka dengan lisannya, ia seorang mukmin dan barang siapa memerangi mereka dengan hatinya, ia seorang mukmin. Dan selain itu tidak memiliki keimanan sebiji sawipun. (hari Muslim).Ijma juga menyatakan wajibnya amar makruf dan nahi mungkar, seperti yang dikatakan Imam an Nawawi, Antara Al Quran, As Sunnah dan Ijma telah selarasdalam membuat pernyataan wajibnya amar makruf dan anhi munkar. Sebab hal itu, bagian dari nasihat dalam agama dan tidak ada yang menyangkal manhaj tersebut, kecuali sebagian Rafidhah. (Syarh Shahih Muslim, 1/22) Jika kewajiban amar makruf dan nahi mungkar telah menjadi ketetapan baku, sementara bagian dari amar makruf nahi mungkar adalah mengajak orang kembali kepada As-Sunnah, memperingatkan mereka dari bahaya bidah, membongkar keburukan ahli bid?ah menghujatmereka karena penyelewengan dari manhaj yang benar dan mengikuti hawa nafsu sehingga terjerumus dalam kerusakan, kebid?ahan, kesesatan dan penyelewengan dalam agama, agar semua manusia tahu dan menjauhi mereka.Syaikhul Islam menjelaskan bahwa tahdzir merupakan bagian amar ma?ruf dan nahi mungkar terhadap ahli bidah. Ia berkata, Orang yang mengajak kepada bidah, berhak mendapat sanksi berdasarkan kesepakatan kaum muslimin. Sanksi tersebut bisa berupa hukuman mati seperti hukuman mati yang telah diterapkan pada Jahm bin Shafwan, saja?d bin Dirham, Ghailan Al-Qadari dan yang lainnya. Andaikata (pelakunya, red) tidak mungkin dijatuhi sanksi, namun kebidahan harus tetap dijelaskan kepada umat. Sebab hal itu, bagian dari dari amar maruf dan nahi mungkar yang diperintahkan oleh Allah Ta?ala dan Rasul-Nya (Majmu? Fatawa, 35/414).Dengan demikian, mengungkap kebidahan dan menyebarkan bahaya ahli bidah kepada semua orang, merupakan bagian amar makruf dan nahi mungkar berdasarkan ketetapan dalil yang shahih. Kedua : Dalil secara khusus yang menganjurkan untuk membongkar dan memjelaskan bahaya ahli bidah kepada semua umat, antara lain: Allah Taala Subhanahu wa Taala berfirman : (yang artinya) : Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (An Nisa:14 Ibnu Katsir meriwayatkan penafsiran Mujahid, Ada salah seseorang bertamu lalu tidak mendapat hak tamu secara layak. Setelah keluar dari rumah orang tersebut, dia berkata kepada orang-orang, Saya bertamu ke rumah si Fulan, tapi bsaya tidak mendapat hak tamu secara layak.Beliau berkata, Ini adalah ucapan buruk yang disampaikan dengan terus terang kecuali oleh orang yang teraniaya hingga yang lain memberikan hak tamu kepadanya (Tafsir Ibnu Katsir, vol.1, hal. 571)?. Bahkan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan secara tegas, bahwa peristiwa itu menjadi sebab turunnya ayat di atas (Majmu? Fatawa, vol. 28, hal 230). Apabila terus terang mengucapkan ucapan buruk untuk membela diri diperbolehkan, maka untuk membela agama Allah Taala dari perusak dan pengacau agama, lebih utama dan sangat dianjurkan, agar mereka tidak menebar fitnah bidah di kalangan umat.Dalil dari Sunnah antara lain hadits dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Ada orang yang meminta izin untuk menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan beliau bersabda, Izinkanlah dia, sungguh dia adalah seburuk-buruk saudara atau teman bergaul. Ketika orang tersebut masuk, beliau bertutur kata manis. Lalu saya bertanya, Wahai Rasulullah, engkau telah mengatakan ucapan seperti itu, kemudian tiba-tiba engkau bertutur kata manis di depannya, Beliau menjawab, Hai Aisyah, sejelek-jelek orang adalah orang yang dijauhi karena takut kejahatannya (hari. AL-Bukhari dalam kitab Al-Adab dan Muslim dalam kitab Al-Birr). Imam An-Nawawi menukil pendapat Al-Qadhi, Orang yang dimaksud adalah Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah Al-Fazari atau Abu Malik. Ketika itu, ia belum masuk Islam, walaupun telah menampakkan keislaman. Nabi ingin menjelaskan perangainya agar semua orang mengerti dan tidak terkecoh, juga sebagai bukti perangai buruk pada masa Nabi masih hidup. Setelah beliau wafat, dia murtad bersama kelompok orang-orang murtad, yang kemudian diserahkan kepada Abu Bakar, sehingga pernyataan beliau di atas sebagai tanda kenabian. Adapun Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersikap bersikap lemah lembut dan bertutur kata manis, dalam rangka membujuk hatinya agar tertarik dengan Islam. Hadits di atas menjadi dalil diperbolehkan basi-basi untuk menghindar dari kejahatannya dan menggunjing orang fasik yang menampakkan kefasikannya (Syarh Shahih Muslim, vol.16 hal. 144).Aisyah berkata bahwa Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda, Saya tidak menyangka kalau dua orang itu mengerti sedikit pun tentang agama itu Laits salah seorang perawi hadits berkata, Dua orang tersebut termasuk orang munafik (hari. Al-Bukhari). Sikap Nabi Shalallahu alaihi wassalam tersebut sebagai bentuk tahdzir. Dan hukum itu bisa berlaku kepada siapa saja yang semisal dengan orang tersebut. Menurut Ibnu Hajar, prasangka seperti itu bukan suatu yang dilarang, karena dalam rangka memberi tahdzir kepada kedua orang tersebut dan yang semisal dengan mereka (Fath Al-Bari, vol. 10, hal. 486).Begitu juga kisah Fatimah bin Qais ketika Muawiyah bin Abu Sufyan dan Abu Jahm melamarnya, ia minta saran pada Nabi Shalallahu alaihi wassalam, dengan siapa harus menikah. Rasululllah Shalallahu alaihi wassalam menjawab, Adapun Abu Jahm tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya dan Muawiyah bin Abu Sufyan miskin tidak punya harta (hari. Muslim, kitab Ath-Thalaq).

Isu Tajassus Dalam Operasi Pencegahan MungkarOleh:Dr Mohd Asri bin Zainul Abidin(Mufti Kerajaan Negeri Perlis)Apabila isu khalwat dibangkitkan ramai pihak yang memberikan reaksi yang tersendiri. Ada yang berkepentingan menjadikan isu ini sebagai isu politik disebabkan sudah lama barangkali ketandusan isu.Ada yang begitu konservertif sehingga enggan memahami maksud sebenar isu ini. Namun yang nyata sokongan golongan terpelajar dan berpendidikan di negara ini amat memberangsangkan. Sokongan besar yang mereka berikan menjadi api semangat ke arah meneruskan proses pembaruan pemikiran yang amat diperlukan demi mempertahankan imej Islam.Kesalahan Memahami IsuWalaupun penjelasan telah dibuat secara bertalu-talu dalam media cetak dan elektronik, ternyata masih ada pihak yang cuba memutar belitkan isu. Antara yang mereka kelirukan ialah kononnya isu ini untuk menghalang al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘An al-Munkar, menggalakkan maksiat, membiarkan muda-mudi terus menambahkan kemungkaran dan seumpamanya.Sebenarnya, apa yang dipertikaikan bukanlah usaha mencegah kemungkaran, tetapi disiplin dan pendekatan yang digunapakai. Juga fokus yang berlebihan terhadap maksiat tertutup sehingga melupai tanggungjawab sebenar terhadap pencegahan maksiat terbuka.Seperti yang dimaklumi, bahawa antara perkara asas yang disepakati oleh umat Islam tanpa kecuali ialah Al-Amr bi al-Ma’ruf Dan al-Nahy ‘An al-Munkar (menyuruh kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) adalah kewajipan agama dan melaksanakannya adalah melaksanakan ibadah kepada ALLAH s.w.t. Nas-nas mengenai perkara ini amat banyak. Kecuaian terhadap tanggungjawab ini adalah dosa.Firman ALLAH dalam Surah al-Maidah: 78-79.: (maksudnya): “Telah dilaknat mereka yang kafir dari Bani Israil melalui lidah Nabi Daud dan Nabi Isa bin Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka menderhaka dan selalu menceroboh. Mereka sentiasa tidak berlarang (sesama sendiri) perbuatan munkar yang mereka lakukan. Demi sesungguhnya amatlah buruknya apa yang mereka telah lakukan”.Ketika menafsirkan firman ALLAH Surah al-Anfal: 25. maksud): “Dan jagalah diri kamu daripada fitnah yang bukan sahaja akan menimpa orang-orang yang zalim di antara kamu secara khusus (tetapi akan menimpa kamu secara umum). Dan ketahuilah bahawa Allah Maha berat azab hukumanNya”,Ibn ‘Abbas berkata: (maksudnya) “ALLAH memerintahkan orang mukmin agar tidak mengakui kemunkaran yang berlaku di kalangan mereka, nanti ALLAH akan mengenakan azab ke atas mereka keseluruhannya”.( rujukan: Al-Tabari, Tafsir al-Tabari: Taqrib wa Tahdhib, 4/59, Damsyik: Dar al-Qalam (1997).Sabda Nabi s.a.w. dalam riwayat al-Imam Muslim: “Sesiapa di kalangan kamu yang melihat kemunkaran maka hendaklah dia ubah dengan tangannya, sekiranya tidak mampu maka dengan lidahnya, sekiranya tidak mampu maka dengan hatinya. Itu adalah selemah-lemah iman”Kata al-Nawawi (meninggal 676H): “Perkataan Nabi s.a.w “hendaklah dia mengubahnya” adalah perintah wajib secara sepakat umat Islam. Mewajibkan al-Amr bi al-Ma’ruf dan al-Nahy ‘an al-Munkar ini bertepatan dengan al-Quran, al-Sunnah dan Ijma’. (rujukan: Al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 1/217, Beirut: Dar al-Khair (1994)Perbuatan meninggalkan al-Amr bi al-Ma’ruf dan al-Nahy ‘an al-Munkar mengundang kemurkaan ALLAH s.w.t. Ia juga adalah satu kemunkaran yang mesti dibantah. Al-Amr bi al-Ma’ruf Dan al-Nahy ‘An al-Munkar adalah fardu kifayah. Jika semua tidak melakukannya, maka mereka semua menanggung dosa. Jika tidak ada sesiapa di hadapan sesuatu kejadian munkar, melainkan seorang sahaja, maka fardu ‘ain ke atas individu berkenaan.Kata al-Nawawi (meninggal 676H): “Sesungguhnya al-Amr bi al-Ma’ruf Dan al-Nahy ‘an al-Munkar adalah fardu kifayah. Jika dilaksanakan oleh sebahagian manusia, maka gugur kesalahan dari yang lain. Jika semua meninggalkannya, maka berdosalah setiap yang mampu melakukannya dengan tanpa sebarang keuzuran dan ketakutan. Kemudian, ia mungkin menjadi fardu ain ke atas seseorang.Ini seperti di tempat yang tiada siapa yang tahu melainkan dia, atau tiada siapa yang mampu mencegahnya melainkan dia. Seperti seseorang yang melihat isteri atau anaknya atau hambanya melakukan munkar atau mengurangi makruf”.( rujukan:Al-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 1/217-21 Mencegah Munkar Mesti Mengikut PeraturanIslam adalah agama yang berpegang kuat dengan disiplin dan peraturan. Bermula dari wuduk, solat, puasa, zakat sehingga hajj ada syarat dan rukunnya. Bermula dari dalam masjid sehingga ke medan perang, ada peraturan dan disiplinnya. Bahkan dalam keadaan yang sukar ketika bertempur dengan musuh pun, para pejuang Islam masih dituntut untuk berpegang dengan peraturan-peraturan tertentu seperti tidak dicincang mayat, tidak dibunuh kanak-kanak dan sesiapa yang tidak terlibat, tidak bunuh para perwakilan dan berbagai lagi. Apa yang penting, suruhan dan perintah yang dikeluarkan oleh Islam diiringi dengan rukun, peraturan, disiplin dan kaedah yang mesti diikuti. Al-Amr bi al-Ma’ruf Dan al-Nahy ‘an al-Munkar adalah titah ALLAH dan ia adalah ibadah atau amal soleh. Justeru ia mempunyai peraturan yang mesti di patuhi.Sesuatu ibadah tidak sah melainkan dengan syarat-syaratnya. Syarat ibadah ialah ikhlas dan menepati al-Quran dan al-Sunnah. Sesiapa yang ikhlas tetapi tidak menepati al-Quran dan al-Sunnah amalannya ditolakKata Ibn Taimiyyah (meninggal 728H): “Oleh kerana ini menjadi batasan setiap amalan soleh, maka penyuruh kepada makruf dan pencegah daripada munkar itu sendiri wajib memenuhi tuntutan tersebut. Justeru tidak menjadi amalan soleh jika tidak dengan ilmu dan fiqh. Ini seperti kata ‘Umar bin ‘Abd al-Aziz:"من عبد الله بغير علم، كان ما يفسد أكثر مما يصلح")Sesiapa yang mengabdikan diri kepada ALLAH tanpa ilmu, maka apa yang dia rosakkan lebih banyak daripada apa yang dia baik…Ini suatu yang jelas. Sesungguhnya tujuan dan amalan jika tidak dengan ilmu maka ia adalah kejahilan, kesesatan dan mengikut hawa nafsu –seperti yang dijelaskan sebelum ini-. Inilah perbezaan antara golongan jahiliyyah dan golongan Islam.Pelaksana Al-Amr bi al-Ma’ruf Dan al-Nahy ‘An al-Munkar mestilah mempunyai ilmu mengenai makruf dan munkar, serta membezakan keduanya. Mestilah juga memiliki ilmu mengenai keadaan orang yang disuruh atau dicegah tersebut”.( rujukan: Ibn Taimiyyah, Majmu’at al-Fatawa, 14/344-345, Riyadh: Maktabah al-‘Abikan 199 Munkar Yang NyataPara ulama syariah ketika membahaskan syarat-syarat Al-Amr bi al-Ma’ruf Dan al-Nahy ‘An al-Munkar telah menyebut dengan jelas bahawa salah satu syaratnya; hendaklah mungkar itu sesuatu yang zahir atau nyata. Dalam ertikata lain sebarang syak wasangka atau intipan tanpa sebab yang dururat adalah dilarang. Hal ini dijelaskan oleh berbagai-bagai ulama dalulu dan semasa.Dalam tulisan ringkas ini saya suka untuk memetik apa yang sebut oleh al-Imam al-Ghazali (meninggal 505H) dalam kitabnya Ihya ‘Ulum al-Din. Ini memandangkan tokoh berkenaan dan karangannya tersebut amat masyhur di kalangan masyarakat melayu kita. Beliau telah menyebut mengenai rukun-rukun perlaksanaan Hisbah. Hisbah bermaksud “perlaksanaan al-Amr bi al-Ma’ruf (menyuruh kepada kebaikan) apabila jelas ia ditinggalkan, dan al-Nahy ‘An al-Munkar (pencegahan kemunkaran) apabila jelas ia dilakukan” (lihat: Dr Fadl Ilhi, Al-Hisbah, m.s. 20, Pakistan: Idarat Tarjamah al-Islam 1997M).Rukun ketiga yang disebut oleh al-Imam al-Ghazali ialah: “Hendaklah kemungkaran tersebut zahir (jelas) kepada ahli hisbah tanpa perlu melakukan intipan. Sesiapa yang menutup sesuatu kemaksiatan di dalam rumahnya, dan mengunci pintunya maka tidak harus untuk kita mengintipnya. Allah Ta’ala telah melarang hal ini. Kisah ‘Umar dan ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf mengenai perkara ini sangat masyhur. Kami telah menyebutnya dalam kitab Adab al-Suhbah (Adab-Adab Persahabatan).Begitu juga apa yang diriwayatkan bahawa ‘Umar r.a. telah memanjat rumah seorang lelaki dan mendapatinya dalam keadaan yang tidak wajar. Lelaki tersebut telah membantah ‘Umar dan berkata: “Jika aku menderhakai ALLAH pada satu perkara, sesungguhnya engkau telah menderhakaiNya pada tiga perkara. ‘Umar bertanya: “Apa dia?”. Dia berkata: ALLAH ta’ala telah berfirman (maksudnya: Jangan kamu mengintip mencari kesalahan orang lain). Sesungguhnya engkau telah melakukannya.ALLAH berfirman: (Maksudnya: Masukilah rumah melalui pintu-pintunya). Sesungguhnya engkau telah memanjat dari bumbung. ALLAH berfirman: (maksudnya: janganlah kamu masuk ke dalam mana-mana rumah yang bukan rumah kamu, sehingga kamu lebih dahulu meminta izin serta memberi salam kepada penduduknya). Sesungguhnya engkau tidak memberi salam. Maka ‘Umar pun meninggalkannya…Maka ketahuilah bahawa sesiapa yang mengunci pintu rumahnya dan bersembunyi di sebalik dindingnya, maka tidak harus seseorang memasuki tanpa izin daripadanya hanya kerana ingin mengetahui perbuatan maksiat. Kecuali jika ia nyata sehingga diketahui oleh sesiapa yang berada di luar rumah tersebut..”(rujukan: Al-Ghazali, Ihya ‘Ulum al-Din, 3/28, Beirut: Dar al-Khair 1990)Tokoh ulama semasa seperti al-Qaradawi telah menyebut perkara yang hampir sama. Beliau dalam bukunya Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam telah menyatakan: “Kemungkaran itu mesti nyata dan dilihat. Adapun jika pelakunya melakukannya secara sembunyian dari pandangan manusia dan menutup pintu rumahnya, maka tidak seorang pun boleh mengintipnya atau merakamnya secara diam-diam dengan menggunakan alat elektronik atau kamera video atau menyerbu rumahnya untuk memastikan kemunkarannya.Inilah yang ditunjukkan pada lafaz hadith "barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka hendaklah dia mengubahnya….” Dikaitkan kewajipan mengubah itu dengan melihat atau menyaksikan kemunkaran. Tidak dikaitkan dengan mendengar tentang kemunkaran dari orang lain.Ini kerana Islam tidak menjatuhkan hukuman kepada orang yang mengerjakan kemungkaran secara bersembunyi dan tidak menampakkannya. Diserahkan hanya kepada ALLAH untuk menghisabnya pada hari kiamat. Hisab ini bukan menjadi wewenang seseorang di dunia. Sehinggalah dia melakukannya secara terang-terangan dan menyingkap keaibannya.Bahkan hukuman ilahi itu lebih ringan bagi orang menutupi kemungkarannya dengan menggunakan tabir ALLAH dan tidak menampakkan kederhakaannya sebagaimana yang disebutkan dalam hadith sahih: (bermaksud):"Setiap umatku diberikan keampunan kecuali orang-orang yang menampakkan (dosanya)" (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).Justeru, tiada seorang pun mempunyai wewenang untuk menjatuhkan hukuman terhadap kemungkaran-kemungkaran yang dilakukan secara sembunyian. Terutamanya maksiat hati seperti riyak, kemunafikan, kesombongan, dengki, kikir dan lain-lainnya. Sekalipun agama menganggapnya sebagai dosa besar, namun tidak dibantah-selagi tidak zahir dalam bentuk amalan. Sebabnya ialah kita diperintahkan untuk menghakimi manusia apa yang kita nampak. Adapun hal-hal yang tersembunyi kita serahkan kepada ALLAH.Kejadian yang menarik mengenai hal ini adalah apa yang dialami oleh Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab r.a. sebagaimana yang dikisahkan Al-Ghazali di dalam Al-Ihya' Ulumuddin tentang melaksanakan amar ma'ruf nahi mungkar, bahawa suatu kali Umar memanjat tembok rumah seseorang, sehingga dia boleh melihat keadaan yang tidak sewajarnya dia lihat lalu membantahnya.. Lalu pemilik rumah itu berkata. "Wahai Amirul Mukminin, jika aku menderhakai Allah hanya dari satu perkara, maka engkau telah menderhakaiNya dari tiga perkara. Tanya ‘Umar: "Apa itu?" . Orang itu menjawab. "Allah telah berfirman, Dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan orang lain. 'Sementara engkau telah mencari-cari kesalahan. Allah telah berfirman. 'Dan datangilah rumah-rumah dari pintunya. "Sementara engkau memanjat atap. Allah telah berfirman. 'Janganlah kalian memasuki rumah-rumah selain rumah-rumah kalian hingga kalian meminta izin dan menyampaikan salam kepada pemiliknya. 'Sementara engkau tidak menyampaikan salam. Maka Umar bin Al-Khattab meninggalkan orang tersebut, dan mensyaratkan kepadanya untuk bertaubat”. (Al-Qaradawi, Min Fiqh al-Daulah fi al-Islam, m.s. 124, Kaherah: Dar al-Syuruq 1997)Adalah menghairankan ada kumpulan atau organisasi tertentu yang pernah menjadikan buku al-Qaradawi tersebut sebagai bahan perbincangan di peringkat kepimpinan mereka tiba-tiba terperanjat apabila isu operasi khalwat dibangkitkan.Tafsiran Tajassus (Mengintip Mencari Kesalahan Orang Lain).Firman ALLAH dalam Surah al-Hujurat ayat 12: (maksudnya) Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari sangkaan (supaya kamu tidak menyangka sangkaan yang dilarang) kerana sesungguhnya sebahagian dari sangkaan itu adalah dosa; dan janganlah kamu mengintip mencari-cari kesalahan orang; dan janganlah setengah kamu mengumpat antara satu sama lain. Adakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh itu, patuhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertaqwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah Penerima taubat, lagi Maha mengasihani.Antara ulama tafsir yang memberikan tafsiran yang teliti tentang maksud al-Tajassus dalam ayat ini ialah al-Imam al-Qurtubi (meninggal 671H). Beliau menafsir maksud ayat wala tajassasu (jangan kamu mengintip) tersebut: “Ambil apa yang nyata, jangan kamu mencari-cari keaiban kaum muslimin, iaitu jangan kamu cari keaiban saudaramu untuk kamu melihatnya setelah ALLAH menutup”. Kemudian al-Imam al-Qurtubi telah mengemukakann riwayat-riwayat yang memadai tentang larangan mengintai atau mengintip maksiat orang lain dengan tujuan untuk diambil tindakan. (Lihat: al-Qurtubi, Al-Jami’ li Ahkam al-Quran, 16/333-334, Beirut: Dar al-Fikr t.t.)Bahkan Syaikh al-Mufassirin, Al-Imam al-Tabari (meninggal 310H) sebelum itu telah menghuraikan dengan jelas maksud ayat ini. Antaranya: wala tajassasu bermaksud jangan kamu mencari keaiban satu sama lain, jangan kamu mencari rahsia-rahsianya dengan tujuan untuk mengetahui kecacatannya. Namun berpadalah dengan apa yang nyata dari dirinya. Nilailah dia atas asas tersebut sama ada baik atau buruk. Jangan kamu mencari kesalahannya. Kata Ibn ‘Abbas: “ALLAH melarang orang mukmin daripada mencari keburukan-keburukan mukmin yang lain. Kata Mujahid: “Ambillah apa yang nyata, dan tinggalkan apa yang ALLAH tutup”. Kata Qatadah: Tahukah kamu apa itu tajassus? Iaitu kamu mencari-cari keaiban saudaramu untuk mengetahui rahsianya. Kata Ibn Zaid: “Tajassus itu kamu berkata: sehingga aku dapat lihat kesalahan itu. Aku bertanya mengenainya untuk mengetahui adakah benar atau tidak”.( al-Tabari, Tafsir al-Tabari, tahzib: Dr Salah al-Khalidi, 7/40-41)Dr Wahbah al-Zuhaili menyebut: wala tajassasu bermaksud: jangan kamu mencari keaiban dan keburukan kaum muslimin. Jangan kamu singkap apa yang mereka cuba tutupi dan kamu cuba melihat rahsia-rahsia mereka”. Beliau juga menyebut: “Tajassus termasuk dalam dosa-dosa besar, iaitu mencari keaiban yang tersembunyi dan rahsia”.( Al-Zuhaili, Al-Tafsir al-Munir, 255, 263/26, Beirut: Dar al-Fikr al-Mu’asir 1991)Sebagai penulis tafsir moden, Sayyid Qutb menyentuh ayat ini dengan begitu mendekati kehidupan muslimin di zaman kini. Antaranya beliau menyebut: “Namun perkara ini kesannya lebih jauh dari itu. Ia adalah prinsip Islam yang utama dalam sistem kemasyarakatannya, juga dalam urusan perundangan dan perlaksanaannya. Sesungguhnya bagi manusia itu kebebasan, kehormatan, kemuliaan yang tidak boleh dicerobohi dalam apa bentuk sekalipun. Tidak boleh disentuh dalam apa keadaan sekalipun.Dalam masyarakat Islami yang tinggi dan mulia, manusia hidup dalam keadaan aman pada diri mereka, aman pada rumah mereka, aman pada rahsia mereka dan aman pada keaiban mereka. Tiada sebarang justifikasi –atas apa alasan sekali pun- untuk mencerobohi kehormatan diri, rumah, rahsia dan keaiban. Sekalipun atas pendekatan mencari jenayah atau memastikannya, tetap tidak diterima dalam Islam pendekatan mengintip orang ramai.Hukum manusia berasaskan apa yang zahir. Tiada hak sesiapa untuk mencari-cari rahsia orang lain. Seseorang tidak akan diambil tindakan melainkan atas kesalahan dan jenayah yang nyata dari mereka….demikianlah nas ini (larangan tajassus) menempatkan dirinya dalam sistem perlaksanaan dalam masyarakat islami. Ia bukan sekadar mendidik jiwa dan membersihkan hati, bahkan ia telah menjadi dinding yang memagari kehormatan, hak dan kebebasan manusia. Tidak boleh disentuh dari dekat atau jauh, atau atas sebarang pendekatan atau nama”.(rujukan: Sayyid Qutb, Fi Zilal al-Quran, 6/3346, Kaherah: Dar al-Syuruq 1992)Nas-Nas Sunnah Dan Amalan Sahabah Berkaitan TajassusBanyak hadith-hadith Nabi s.a.w yang menyentuh hal ini. Bersesuaian dengan tulisan yang ringkas ini, di sini disebutkan antaranya; Daripada Abi Barzah al-Aslami, katanya: Bersabda RasululLah s.a.w: “Wahai sekelian yang mendakwa beriman dengan lidahnya, namun iman tidak masuk ke dalam hatinya, jangan kamu mengumpat kaum muslimin, jangan kamu mencari-cari keaiban mereka. Sesiapa yang mencari-cari keaiban kaum muslimin, maka ALLAH akan mencari keaibannya. Sesiapa yang ALLAH cari keaibannya, maka ALLAH akan mendedahnya sekalipun dirumahnya.( Hadith sahih. Riwayat Abu Daud dan Ahmad)Dalam hadith lain daripada Mu’awiyah. Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya engkau, jika mencari-cari keaiban orang ramai, nescaya engakau merosakkan mereka atau hamper merosakkan mereka. Kata Abu Darda: Itu adalah perkataan yang Muawiyah dengar daripada Rasulullah, ALLAH memberikan manfaat kepadanya dengan perkataan tersebut. (Riwayat Abu Daud. Sanadnya sahih)Dalam satu riwayat daripada Zaid bin Wahb, katanya: Dibawa seorang lelaki kepada Ibn Mas’ud, lalu diberitahu kepadanya: Lelaki ini menitis arak dari janggutnya. Kata ‘Abd ALLAH bin Mas’ud: “Kita dilarang untuk mengintip, namun apabila jelas kepada kita maka kita bertindak”.( Riwayat Abu Daud. Sanadnya sahih)Al-Syaikh Salim ‘Id al-Hilali ketika mensyarahkan hadith-hadith Riyad al-Salihin menyebut: “Tajassus bermaksud mencari dan menyelidiki keburukan dan keaiban kaum muslimin. Al-Quran dan al-Sunnah telah melarang hal ini. Sebabnya ia menyakitkan empunya keaiban itu sedangkan dia berusaha menutup dan tidak melakukannya secara terang-terangan. Dilarang berusaha mencari kesalahannya kerana kita disuruh menutup keaiban seboleh mungkin”.( Al-Hilali, Bahjah al-Nazirin, 3/92, Jeddah: Dar Ibn Jauzi 1425H).Jika Darurat Mendesak TajassusTimbul persoalan pada sesetengah pihak, terutamanya pasukan keselamatan; jika intipan dilarang sama sekali, ia boleh menimbulkan ancaman yang membahayakan negara atau keselamatan awam. Ini seperti rancangan pengedaran, senjata api dan seumpamanya.Di sini perlu dijelaskan, tajassus adalah diharamkan untuk kemaslahatan dan mengelakkan kerosakan. Namun jika terbukti di sana ada keburukan atau kemerbahayaan yang lebih besar yang mengancam keselamatan awam, maka ia diizinkan seperti mana diizinkan mengumpat untuk suatu tuntutan yang mendesak. Ini seperti firman ALLAH dalam Surah al-Nisa 148-149: (maksudnya) Allah tidak suka kepada perkataan-perkataan buruk yang dikatakan dengan berterus-terang (untuk mendedahkan kejahatan orang); kecuali oleh orang yang dianiayakan. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar, lagi Maha Mengetahui. Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan, atau menyembunyikannya, atau kamu memaafkan kesalahan (yang dilakukan terhadap kamu), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.Dalam keadaan terdesak, maka apa yang dijelaskan oleh al-Imam al-Syaukani (meninggal 1250H) amat bertepatan. Kata beliau: “Aku katakan; jika hanya semata-mata sangkaan maka tidak mencukupi dalam hal ini. Bahkan mestilah dengan pengetahuan kerana ia termasuk dalam tajassus yang dilarang berdasarkan dalil al-Quran. Namun dibolehkan untuk suatu kemaslahatan yang mana membantah kemunkaran itu lebih kukuh dibandingkan meninggalkan tajassus dan kerosakan meninggalkan bantahan terhadap kemungkaran lebih dahsyat dari kerosakan tajassus. Atau mungkin boleh digabungkan bahawa pengharaman tajassus berkaitan dengan tanpa pengetahuan (sangkaan) kerana tidak dinamakan tajassus jika perlaksananya benar-benar mengetahui”.( Al-Syaukani, Al-Sail al-Jarar, 4/591 Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah 1405H)Secara mudah saya bahagikan hal ini kepada dua bahagian:Pertama: Maksiat atau kemungkaran peribadi yang membabitkan diri seorang insan dengan Tuhannya sahaja tanpa mengancam keselamatan awam. Maka maksiat seperti ini tidak boleh dilakukan tajassus. Ini berdasarkan dalil-dalil yang disebutkan tadi.Kedua: Maksiat atau kemungkaran yang mengancam keselamatan awam. Maksiat jenis boleh diintip disebabkan kemerbahayaan membiarkannya tanpa kawalan adalah lebih dahsyat dari keburukan tajassus.Adapun pembahagian yang dibuat oleh al-Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkam al-Sultaniyyah yang dikutip tanpa ulasan yang mendalam oleh beberapa penulisan segelintir ulama dahulu dan sekarang adalah pembahagian yang menarik dan mempunyai unsur persamaan dengan yang saya sebutkan. Namun sebutan zina sebagai contoh dalam pembahagian pertama yang membolehkan tajassus tidak mempunyai alasan atau sandaran yang kukuh. Bahkan bercanggah dengan kes-kes aduan zina pada zaman Nabi s.a.w yang mana baginda berusaha menolak aduan dan mengelakkan kes diproses.Garis Panduan Umum Operasi KhalwatBerdasarkan perkara-perkara yang disebutkan di atas maka, saya dengan ini mencadangkan atau mengingatkan beberapa perkara berikut mestilah difahami dan diberikan perhatian;1. Operasi ini hendaklah tidak menjadi punca kemungkaran tajassus berkembang dalam masyarakat Islam.Maka pemberi maklumat hendaklah dipastikan ia tidak diperolehi berdasarkan perbuatan tajassusnya. Sebaliknya, berasaskan zahirnya kemungkaran tersebut. Seperti nampak dari luar rumah, atau bunyi yang meyakinkan maksiat sedangkan berlaku. Jika dia melakukan tajassus tanpa keperluan, maka dia fasik. Pemberitahuan orang fasik ditolak.2. Operasi Itu Sendiri Tidak Berasaskan Tajassus.Operasi memeriksa bilik ke bilik atas usaha mencari kesalahan maksiat adalah diketegorikan sebagai tajassus. Kemungkaran yang dicegahkan ialah apabila ia nyata atau diketahui secara yakin. Ini seperti nampak melalui tingkap atau cermin yang jelas. Aktiviti yang dimaklumi oleh masyarakat sekeliling atau berdekatan. Maka operasi mencari maksiat tersembunyi seperti meminta dibuka pintu untuk diperiksa tanpa sebarang kemaslahatan mendesak iaitu ancaman keselamatan awam adalah bercanggahan dengan ruh Islam.3. Operasi Tidak Boleh Berasaskan Perkhabaran Yang Tidak DiyakiniSebarang syak wasangka atau agakan semata-mata tidak boleh dijadikan teras operasi. Al-Quran melarang menerima perkhabaran orang fasik. Ini seperti firman ALLAH dalam Surah al-Hujurat ayat 6: (maksudnya) Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini - dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) - sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan.Operasi ini mempunyai kesan terhadap maruah dan hak kebebasan orang lain. Maka individu yang diketahui terlibat dengan kerja-kerja fasik secara jelas hendaklah ditolak. Termasuk dalam hal ini ‘kaki tajassus’. Al-Imam Ibn Kathir menyebut bahawa berdasarkan ayat ini sebahagian ulama menolak riwayat orang yang tidak diketahui latarbelakangnya dibimbangi ia fasik.(lihat: Ibn Kathir, Tafsir al-Quran al-‘Azim, 13/145, Riyadh: Dar ‘Alam al-Kutub 1425H)4. Pihak Pencegahan tidak boleh menggalakkan suasana suka mengadu keaiban sesama muslim –secara langsung atau tidak- tanpa kesedaran sendiri melakukan Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘An al-Mungkar.Nabi s.a.w tidak suka kes-kes diangkat kepada baginda. Sikap suka mengangkat kes-kes maksiat peribadi kepada penguasa adalah menyanggahi ruh Islam yang menyuruh ditutup keaiban saudara muslim. Sebaliknya, masyarakat hendaklah digalakkan dan diberi kesedaran melakukan Al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘An al-Munkar kerana itu adalah tanggungjawab semua pihak. Maka pemberian saguhati kepada pemberi maklumat dalam maksiat peribadi ini hendaklah dihentikan.5. Tidak boleh didedahkan maksiat ini kecuali untuk perbicaraan kes.Maka tindakan membawa media untuk membuat liputan semasa penangkapan adalah menyanggahi prinsip-prinsip keadilan dalam Islam.6. Operasi benar-benar berteraskan keyakinan terhadap keselarasan dengan kaedah syarak dan ketepatan tindakan.Perlu disedari operasi ini boleh menyebabkan sangkaan buruk tanpa bukti kukuh, mencemarkan maruah jika tersilap tangkapan, mengganggu ketenteraman individu dan haknya, menimbulkan kebencian terhadap pihak agama jika masyarakat diperiksa tanpa bukti yang nyata dan lain-lain. Maka jika ada sebarang keraguan, hendaklah tidak diterus sesuatu operasi pada sesuatu masa atau tempat. Maka kes kesilapan dalam tangkapan yang berlaku di sana sini adalah tanda menjalankan operasi atas keraguan.Jika operasi dibuat dengan mematuhi syarat-syarat yang berlandaskan ruh syarak tentu kesilapan dan bantahan orangramai terhadap cara operasi dijalankan boleh di atasi. Focus masalah umat Islam juga hendaklah lebih luas. Maka persoalan tajassus yang dibincangkan oleh para ulama hendaklah diberikan perhatian serius agar imej Islam dapat dipelihara.

No comments: